Jamur Kantung (Ascomycota)


Laman ini adalah tampilan standar. Akses versi seluler cepat laman ini di: Jamur Kantung (Ascomycota) (untuk menghemat pemakaian data).

Jamur kantung atau Ascomycetes (filum Ascomycota) adalah kelompok jamur yang memiliki struktur seksual mikroskopis berbentuk kantung atau gelembung yang bernama askus. Di dalam askus (dari bahasa Yunani: ἀσκός (askos), yang berarti “kantung” atau “kantong kulit”), terbentuklah spora nonmotil yang bernama askospora selama reproduksi seksual. Secara sederhana jamur Ascomycota adalah jamur yang mempunyai askus. [1]

Daftar isi

Bab ini membahas: (1) klasifikasi; (2) peranan Ascomycota bagi lingkungan; (3) reproduksi; dan (4) contoh-contoh Ascomycota.

Klasifikasi Jamur Kantung (Ascomycota)

Ascomycota merupakan filum terbesar dari kingdom Fungi dengan lebih dari 64.000 spesies. Filum ini juga mengandung 75% dari spesies Fungi yang telah diketahui. [2] Namun demikian, tidak semua anggota filum ini membentuk askus atau askospora. Terdapat anggota yang bereproduksi dengan aseksual (reproduksi seksualnya belum diketahui) yang sebelumnya dikelompokkan ke dalam Deuteromycota, tetapi dalam perkembangannya dikelompokkan ke dalam Ascomycota karena filogenetik DNA-nya. Sehingga, filum ini adalah filum yang monofiletik yang semua anggotanya berasal dari leluhur (common ancestor) yang sama. Saat ini Ascomycota merupakan salah satu dari tujuh filum utama kingdom Fungi, dan bersama dengan Basidiomycota, mereka tergabung dalam subkingdom Dikarya.

Pengelompokkan yang berdasarkan DNA tersebut membuat jamur Ascomycota beragam dalam struktur morfologinya, Jamur kantung ini ada yang bersel tunggal seperti ragi Candida dan Saccharomyces, berfilamen (hifa) multiseluler seperti cendawan Neurospora, Aspergillus, dan Penicillium. [3] Ukurannya juga bervariasi mulai dari mikroskopis sampai dengan makroskopis.

Peranan Ascomycota bagi Lingkungan

Jamur Ascomycota memiliki peranan penting pada ekosistem darat. Mereka merupakan dekomposer penting yang memecahkan materi organik seperti tumbuhan dan hewan yang sudah mati. Jamur Ascomycota (dengan Fungi lain) dapat memecahkan molekul besar seperti selulosa dan lignin, sehingga mereka memiliki peranan penting dalam siklus karbon. Tubuh buah jamur kantong juga merupakan sumber makanan bagi berbagai makhluk hidup. Organisme ini juga dapat hidup bersimbiosis dengan organisme lain, khususnya alga hijau (Chlorophyta) dan alga hijau biru (Cyanobacteria). Simbiosis ini akan membentuk lumut kerak (lichen).

Lichen adalah organisme gabungan yang muncul dari alga yang hidup pada filamen (hifa) jamur dalam hubungan simbiosis yang saling menguntungkan. Jamur mendapatkan keuntungan dari alga karena mereka menghasilkan makanan dari fotosintesis. Sementara alga mendapatkan perlindungan dari lingkungan karena filamen-filamen dari jamur. Filamen ini juga mengumpulkan kelembaban dan nutrisi dari lingkungan, dan (biasanya) memberikan dukungan untuk alga. [4]

lumut-kerak-lichen

Lumut kerak (lichen) | Photo by Norbert Nagel, Mörfelden-Walldorf, Germany is licensed under CC-BY-SA-3.0

Selain itu jamur Ascomycota juga membentuk mikoriza. Mikoriza adalah simbiosis antara jamur dengan akar tumbuhan, yang penting untuk pertumbuhan dan daya tahan tanaman. Ascomcota dapat memasuki korteks dari akar tetapi tidak memasuki sitoplasma akar tumbuhan. Ektomikoriza membentuk mantel pada bagian luar akar dan tumbuh diantara dinding sel, sedangkan endomikoriza dapat menembus dinding sel. Keberadaan jamur ini membuat akar tumbuhan memiliki area penyerapan yang lebih luas untuk mengambil mineral dari tanah. Jamur juga diutungkan dengan energi yang dihasilkan dari produk fotosintesis tumbuhan. [5]

ektomikoriza

Ektomikoriza | Photo from http://www.biomedcentral.com/1471-2105/6/178 is licensed under CC-BY-2.5

Reproduksi Jamur Kantung (Ascomycota)

Reproduksi vegetatif (aseksual) adalah bagian yang dominan pada Ascomycota. Pada kelompok ragi, perkembangbiakan vegetatif dilakukan dengan bertunas (budding) atau membelah diri. Pada jamur Ascomycota lain, ujung hifa bersekat dan berkembang menjadi struktur yang disebut konidiofor. Pada konidiofor inilah terbentuk spora yang disebut dengan konidia atau konidiospora. Kadang spora yang dihasilkan dapat memiliki dinding tebal, spora ini disebut dengan klamidospora atau klamidokonidia.

like-fb-tentorku

Apabila Anda menyukai artikel Tentorku, bantu Tentorku untuk tumbuh di www.facebook.com/tentorku/

konidia

Konidia | Photo by US Government is not licensed (Public Domain)

Reproduksi generatif (seksual) pada Ascomycota dilakukan dengan membentuk askus, yang merupakan struktur unik dari jamur Ascomycota. Proses reproduksi seksualnya adalah: [1][2][3]

siklus-hidup-ascomycota

Siklus hidup Ascomycota | Photo by Tentorku (source: M. Piepenbring) is licensed under CC-BY-SA-3.0

  1. Ketika dua tipe hifa (haploid) yang berbeda “jenis kelamin” (+) dan (-) berdekatan. Ujung hifa-hifa tersebut akan berkembang menjadi gametangia. Gametangium (+) atau “betina” disebut askogonium, dan gametangium (-) atau “jantan” disebut anteridium.
  2. Akan muncul struktur hifa dari askogonium yang seperti jembatan ke anteridium (disebut trikogin). Terjadilah plasmogami (penyatuan sitoplasma), lalu inti-inti dari anteridium akan berpindah ke askogonium.
  3. Tidak seperti tumbuhan dan hewan, plasmogami pada Ascomycota tidak langsung diikuti dengan kariogami (peleburan inti), sehingga terbentuklah fase dikariotik (n+n) pada hifa fertil (askogen). Fase dikariotik ini membuat Ascomycota tergolong subkingdom Dikarya.
  4. Mulailah proses pembentukan askus muda, kariogami menyatukan inti menjadi diploid, kemudian diikuti dengan meiosis, lalu mitosis, sehingga askospora yang dihasilkan berjumlah empat sampai delapan buah (haploid).

Gambar di atas hanya menggambarkan satu buah askus, pada kenyataannya hifa-hifa fertil (askogen -> askus) dan hifa-hifa steril yang jumlahnya sangat banyak akan terkumpul menjadi tubuh buah yang disebut askokarp. Askokarp ini bentuknya bermacam-macam, bentuk mangkok disebut juga dengan apotesium, bentuk bulat tertutup rapat disebut kleistotesium, dan bentuk botol atau labu dengan lubang sempit yang disebut peritesium. [6]

askokarp-apotesium

Askokarp – apotesium | Photo by Debivort is licensed under CC-BY-SA-3.0

Contoh-Contoh Ascomycota

Ascomycota memiliki peranan penting dalam kehidupan, selain menghasilkan antibiotik seperti Penicillium (tadinya termasuk Deuteromycota), Jamur kantung ini juga bermanfaat untuk aneka industri makanan, terutama ragi Saccharomyces. Berikut ini adalah contoh jamur Ascomycota yang menguntungkan: [7]

Ascomycota Dalam Industri Makanan
SpesiesProduk yang Dihasilkan
Aspergillus nigerawamori (sejenis minuman beralkohol)
Aspergillus oryzaemiso, sake, kecap
Aspergillus sojaemiso, kecap
Candida milleriroti
Penicillium camembertikeju
Penicillium caseifulvumkeju
Penicillium chrysogenumkeju, sosis
Penicillium nalgiovensekeju, sosis, ham
Penicillium roquefortikeju
Saccharomyces bayanusbir, minuman apel (cider), minuman anggur (wine)
Saccharomyces carlsbergensisbir lager
Saccharomyces cerevisiaebir ale, bir lager, minuman apel (cider), minuman anggur (wine), roti, keju, coklat
Saccharomyces pastorianusbir lager
Saccharomyces uvarumbir lager

Meskipun demikian beberapa spesies di atas juga dapat merugikan apabila penggunaanya tidak tepat. Berikut ini adalah beberapa contoh Ascomycota yang merugikan:

Ascomycota Yang Merugikan
SpesiesKerugian yang Ditimbulkan
Aspergillus nigerpenyebab penyakit "black mould" pada beberapa buah dan sayur, serta mengontaminasi makanan.
Aspergillus fumigatuspenyebab penyakit-penyakit aspergillosis pada hewan dan manusia
Aspergillus flavusmenghasilkan racun aflatoksin yang berbahaya
Candida albicanspenyebab berbakai penyakit infeksi jamur (candidiasis)
Fusarium graminearummengontaminasi jelai dan gandum
Trichophyton rubrumpenyebab penyakit kaki atlit (tinea pedis)
Trichophyton interdigitalepenyebab penyakit kaki atlit (tinea pedis)

Catatan:
Karena pada bagian sebelumnya kita telah membahas Deuteromycota, maka akan muncul pertanyaan mengapa jamur yang dibahas pada Deuteromycota muncul kembali di Ascomycota. Hal ini disebabkan karena Deuteromycota adalah kelompok yang sudah usang (tidak digunakan lagi). Anggota-anggota yang tadinya Deuteromycota sekarang tersebar dalam filum-filum modern Fungi, sebagian besar ada di Ascomycota.

Referensi

Kontributor:

Kutip materi pelajaran ini:
Kontributor Tentorku, 2015, "Jamur Kantung (Ascomycota)," Artikel Tentorku, https://www.tentorku.com/jamur-kantung-ascomycota/ (diakses pada 26 Mar 2017).

Materi Pelajaran Terkait:

Materi pelajaran ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda dapat mengisi komentar di bawah untuk memberitahu kami topik atau judul pelajaran yang Anda inginkan.
Anda juga bisa mengirimkan komentar pada Tentorku di akun fb/twitter/google kami di @tentorku.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan pembahasan.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kode Verifikasi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.