Sejarah dan Taksonomi Fungi (Jamur)


Laman ini adalah tampilan standar. Akses versi seluler cepat laman ini di: Sejarah dan Taksonomi Fungi (Jamur) (untuk menghemat pemakaian data).

Berbeda dari tanaman dan hewan, catatan fosil jamur jumlahnya sedikit. Faktor-faktor yang mungkin berkontribusi pada sedikitnya jumlah fosil dari spesies Fungi antara lain: sifat tubuh buah Fungi yang lembut, berdaging, jaringan yang dapat dengan mudah terurai, dan ukuran mikroskopis dari kebanyakan struktur Fungi. Fosil Fungi sulit dibedakan dari mikroba lainnya, dan paling mudah diidentifikasi apabila menyerupai Fungi yang masih ada saat ini.

Daftar isi

Bab ini membahas (1) sejarah evolusi Fungi; (2) sejarah taksonomi Fungi; dan (3) taksonomi Fungi modern.

Sejarah Evolusi Fungi

Meskipun catatan fosil jumlahnya sedikit, tetapi terdapat fosil yang dapat dikenali sebagai jamur sapotrofik besar (bahkan mungkin Basidiomycota). Fosil ini merupakan fosil prototaxites yang biasa ditemukan di semua bagian dunia pada periode Devonian pertengahan dan akhir (sekitar 419,2 sampai 358,9 juta tahun yang lalu). Fosil Fungi bukanlah hal yang biasa dan dapat diterima oleh ilmuwan sebelum fosil periode Devonian ini. Fosil Fungi pada periode ini ditemukan berlimpah pada bongkahan sedimen Rhynie (Rhynie chert) yang terdapat di dekat pedesaan Rhynie, Aberdeenshire, Skotlandia. Fosil Fungi ini sebagian besar adalah fosil Zygomycota and Chytridiomycota.

Pada saat yang bersamaan, sekitar 400 juta tahun yang lalu, Ascomycota dan Basidiomycota terpisah, dan semua Fungi modern muncul pada akhir Carboniferous (Pennsylvanian, sekitar 318,1 sampai 299 juta tahun yang lalu). [1]

rhynie-chert

Rhynie chert | Photo by Jpwilson at English Wikipedia is not licensed (Public Domain)

Karena minimnya catatan fosil, maka karakteristik biokimia menjadi penanda peta hubungan evolusi jamur. Kelompok-kelompok jamur dapat dihubungkan dengan komposisi dinding sel, organisasi enzim triptopan, dan sintesis lisin. Analisis filogenetik molekuler pada tahun 1990-an telah berkontribusi sangat besar untuk mengerti asal-usul dan evolusi Fungi. Pada awalnya, analisis ini menghasilkan pohon evolusi jamur dengan membandingkan urutan gen tunggal, biasanya adalah gen RNA ribosom (rRNA). Kemudian setelah itu, informasi dari beberapa gen pengkode protein membantu membetulkan kesalahan, dan pohon filogenetik Fungi saat ini sedang dibuat menggunakan bermacam-macam data. [2]

Sejarah Taksonomi Fungi

Fungi tadinya diklasifikasikan ke dalam kingdom Plantae dan dibedakan menjadi empat kelas:

Kelompok tradisional ini membedakan Fungi berdasarkan morfologi organ seksual, ada tidaknya septa, dan derajat repetisi kromosom (ploidi) pada inti vegetatif miselium. Pada era ini jamur lendir juga masih termasuk dalam divisi Fungi.

Pada pertengahan abad 20 terdapat tiga kingdom utama dari eukaryota multiseluler, yaitu kingdom Plantae, kingdom Animalia, dan kingdom Fungi. Perbedaan ciri yang krusial adalah dalam hal nutrisi dan dinding sel. Meskipun Fungi bukan tumbuhan, namun nomenklatur untuk jamur diatur dalam International Code of Botanical Nomenclature (ICBN). Sebagai tambahan, “filum” digunakan dalam nomenklatur jamur, namun beberapa referensi juga menggunakan “divisi” dalam tingkat taksonominya. Karena ensiklopedia main stream di internet menggunakan “filum,” maka Tentorku juga menggunakan “filum.”

like-fb-tentorku

Apabila Anda menyukai artikel Tentorku, bantu Tentorku untuk tumbuh di www.facebook.com/tentorku/

Kingdom Fungi terpisah dari leluhur bersama (dengan hewan) sekitar 800 sampai 900 juta tahun yang lalu. Saat ini, banyak organisme khususnya di kalangan Phycomycetes dan jamur lendir, tidak lagi dianggap sebagai jamur sejati. Perubahan ini juga terjadi pada jamur air yang diklasifikasikan ulang pada kingdom Chromista, dan Amobidales (parasit pada arthropoda) sekarang dianggap sebagai Protozoa.

aneka-jamur

Aneka jamur | Photo by BorgQueen is licensed under CC-BY-SA-2.5

Klasifikasi dunia Jamur pada tahun 2007 merupakan hasil dari upaya penelitian kolaboratif skala besar yang melibatkan puluhan mycologists dan ilmuwan lain yang bekerja pada taksonomi jamur. Ada tujuh filum yang diakui, dua di antaranya adalah Ascomycota dan Basidiomycota dalam cabang subkingdom Dikarya. Filum (divisi) utama Fungi telah diklasifikasikan, terutama atas dasar karakteristik struktur reproduksi seksual mereka. Saat ini, terdapat tujuh filum yang diusulkan:

  • Microsporidia
  • Chytridiomycota
  • Blastocladiomycota
  • Neocallimastigomycota
  • Glomeromycota
  • Ascomycota
  • Basidiomycota

Taksonomi Fungi Modern

Pada bagian ini, akan dibahas secara singkat tujuh filum utama Fungi: Microsporidia, Chytridiomycota, Blastocladiomycota, Neocallimastigomycota, Glomeromycota, Ascomycota, dan Basidiomycota.

Microsporodia adalah parasit uniselular pada hewan dan Protista. Microsporodia merupakan jamur endobiotik yang tinggal pada jaringan spesies lain. Tadinya, Microsporidia dianggap sebagai eukariota yang sangat primitif, terutama karena ketiadaan mitokondria, dan ditempatkan bersama dengan Protozoa lain seperti diplomonads, parabasalia, dan archamoebae di kelompok Protista Archezoa. Namun, penelitian yang lebih baru merevisi pengelompokan ini. Saat ini, Microsporidia ditempatkan dalam Fungi atau sebagai sister-group dari Fungi dengan leluhur yang sama. [3]

Chytridiomycota umumnya dikenal sebagai chytrids. Chytrids menghasilkan zoospora yang dapat bergerak aktif pada zat cair dengan flagela tunggal. Hal ini membuat ilmuwan tadinya mengklasifikasikan Chytrids sebagai Protista. Chytrids adalah salah satu dari garis keturunan Fungi yang bercabang di awal, bersifat saprobik dengan menguraikan kitin dan keratin, atau bertindak sebagai parasit. Keanggotaan pada kingdom Fungi ditunjukkan dengan adanya kitin pada dinding selnya, memiliki flagela, menyerap nutrisi, menggunakan glikogen sebagai senyawa penyimpanan energi, dan mensintesis lisin. [4]

Blastocladiomycota tadinya merupakan ordo Blastocladiales dalam filum Chytridiomycota. Hal ini terjadi sampai ciri molekuler dan ciri ultrastruktur zoospora digunakan untuk menunjukkan bahwa mereka tidak monofiletik dengan Chytridiomycota. Blastocladiomycota merupakan sapotrof, mengambil makanan dari menguraikan zat organik, dan merupakan parasit dari semua kelompok eukaryota. Tidak seperti kerabat dekatnya, Chytrids, yang menampilkan meiosis zigot, Blastocladiomycota menjalani meiosis spora. [5]

Neocallimastigomycota tadinya termasuk dalam filum Chytridomycota. Anggota dari filum kecil ini adalah organisme anaerobik, hidup pada sistem pencernaan hewan herbivora besar, juga lingkungan darat dan air yang kaya akan selulosa. Organisme ini tidak memiliki mitokondria dan membentuk zoospora berflagel. [6]

Glomeromycota memiliki sekitar 230 spesies. Anggota Glomeromycota membentuk mikoriza arbuskula (AM) dengan akar atau talus dari tanaman darat. Sebagian bukti menunjukkan bahwa Glomeromycota bersimbiosis dengan tanaman darat untuk karbon dan energi, tetapi ada bukti baru bahwa beberapa dari mereka mungkin dapat hidup independen. Spesies mikoriza arbuskula tersebar secara luas di seluruh dunia, di mana mereka membentuk simbiosis dengan akar dari mayoritas (> 80%) spesies tanaman. Mereka juga dapat ditemukan di lahan basah, termasuk rawa bergaram, dan dikaitkan dengan tanaman epifit. [7]

Ascomycota umumnya dikenal dengan jamur kantong, adalah filum terbesar dari Fungi dengan lebih dari 64.000 spesies. Ciri yang menentukan dari kelompok ini adalah askus, yaitu struktur seksual mikroskopis (berbentuk kantong) di mana askospora dibentuk. Ascomycota adalah kelompok monofiletik yang berisi semua keturunan dari nenek moyang. Kelompok ini bermanfaat bagi manusia sebagai sumber senyawa penting obat-obatan, seperti antibiotik, juga untuk membuat roti, minuman beralkohol, dan keju. Namun demikian, sebagian juga menjadi patogen bagi manusia dan tanaman. Contoh jamur kantung ini adalah truffle, ragi, ragi roti, dan jamur mangkok. [8]

Basidiomycota umumnya dikenal sebagai jamur payung, adalah jamur kelas tinggi yang bereproduksi secara seksual dengan pembentukan sel berbentuk batang yang disebut basidia. Spora yang dihasilkan disebut basidiospora. Contoh dari jamur kelompok ini adalah jamur merang, jamur kuping, jamur karat, jamur api, dll. [9]

Referensi

Kontributor:

Kutip materi pelajaran ini:
Kontributor Tentorku, 2015, "Sejarah dan Taksonomi Fungi (Jamur)," Artikel Tentorku, https://www.tentorku.com/sejarah-dan-taksonomi-fungi-jamur/ (diakses pada 28 Feb 2017).

Materi Pelajaran Terkait:

Materi pelajaran ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda dapat mengisi komentar di bawah untuk memberitahu kami topik atau judul pelajaran yang Anda inginkan.
Anda juga bisa mengirimkan komentar pada Tentorku di akun fb/twitter/google kami di @tentorku.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan pembahasan.

Tinggalkan komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kode Verifikasi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.