Siklus Hidup Cacing Gilik (Nematoda)


Laman ini adalah tampilan standar. Akses versi seluler cepat laman ini di: Siklus Hidup Cacing Gilik (Nematoda) (untuk menghemat pemakaian data).

Nematoda adalah filum besar yang sangat beraneka ragam. Anggota kelompok ini dapat hidup hampir di semua ekosistem, dari air laut, air tawar, daratan, bahkan di daerah kutub. Dominasi mereka dapat mencapai satu juta individu per meter persegi, dan merupakan 80% dari semua hewan di bumi. [1] Keberhasilan Nematoda untuk “menguasai” bumi ini salah satunya disebabkan karena hewan ini dapat hidup dengan “nyaman” di dalam tubuh kita. Lebih dari separuh anggota filum Nematoda bersifat sebagai parasit, dan mereka memiliki siklus hidup yang beraneka ragam.

Siklus Hidup Cacing Usus (Ascaris lumbricoides)

Ascaris lumbricoides adalah Nematoda parasit terbesar yang hidup di dalam usus manusia, dan dapat menyebabkan penyakit ascariasis. Sebanyak lebih dari 85% kasus penyakit ini tidak menimbulkan gejala ketika terjadi infeksi, namun kemudian seiring berjalannya waktu akan muncul beberapa gejala seperti nafas yang pendek dan demam pada awal mula penyakit ini. Gejala lain seperti bengkak pada daerah perut, sakit perut, dan diare mungkin akan mengikuti gejala awal. Ascariasis biasanya menyerang anak-anak sehingga dapat mengakibatkan pertumbuhan yang buruk, malnutrisi, dan kesulitan belajar. [2]

siklus-hidup-cacing-usus

Siklus hidup cacing usus | Gambar oleh U.S. CDC adalah tidak berlisensi (domain publik)

Daur hidup Ascaris lumbricoides adalah (lihat gambar di atas): [3]

  1. Cacing usus dewasa hidup pada lumen dari usus halus. Cacing betina akan menghasilkan telur yang dapat mencapai 200.000 butir per hari. Telur-telur ini dapat berembrio ataupun tidak berembrio.
  2. Telur-telur tersebut dikeluarkan melalui kotoran. Hanya telur yang dibuahi yang dapat berkembang dan menginfeksi manusia.
  3. Telur yang berembrio dapat menginfeksi (bersifat infektif) setelah 18 hari sampai beberapa minggu bergantung dari kondisi lingkungan (kelembaban tanah, suhu, ada tidaknya sinar matahari).
  4. Telur infektif tertelan manusia.
  5. Larva menetas dan kemudian menyerang membran lendir usus.
  6. Larva menembus dinding usus dan terbawa aliran darah menuju paru-paru. Dalam paru-paru larva tumbuh selama 10 sampai 14 hari dan naik ke faring.
  7. Larva tersebut tertelan kembali dan berkembang menjadi cacing dewasa dalam usus halus. Cacing usus dewasa dapat hidup selama satu sampai dua tahun.

Siklus Hidup Cacing Tambang (Ancylostoma duodenale)

Infeksi ringan cacing tambang hanya menyebabkan sakit perut dan kehilangan nafsu makan. Akan tetapi, infeksi berat dari cacing ini dapat menimbulkan kekurangan protein parah dan kekurangan zat besi (anemia). Kekurangan protein dapat menimbulkan kulit kering, edema, dan perut buncit; dan anemia dapat membuat keterbelakangan mental dan gagal jantung. [4]

siklus-hidup-cacing-tambang

Siklus hidup cacing tambang | Gambar oleh U.S. CDC adalah tidak berlisensi (domain publik)

Daur hidup Ancylostoma duodenale adalah (lihat gambar di atas): [5]

  1. Telur dikeluarkan melalui feses, dan dengan kondisi yang tepat (suhu, kelembaban, keteduhan), larva menetas dalam satu sampai dua hari.
  2. Larva yang menetas disebut larva rhabditiform dan tumbuh pada feses atau tanah.
  3. Larva tersebut lalu berkembang menjadi larva filariform setelah lima sampai sepuluh hari (dan dua kali molting). Larva bentuk ini telah bersifat infektif dan dapat bertahan hidup tiga sampai empat minggu pada kondisi lingkungan yang menguntungkan.
  4. Ketika bersentuhan dengan manusia, larva filariform menembus kulit manusia dan terbawa oleh pembuluh darah ke jantung kemudian ke paru-paru. Lalu naik ke faring dan tertelan menuju ke usus halus untuk hidup dan mencapai dewasa.
  5. Cacing filaria dewasa hidup di usus halus untuk kemudian bertelur kembali.

*Ketika penetrasi pada kulit inang, larva rhabditiform dapat dorman sementara pada usus atau otot.

Siklus Hidup Cacing Filaria (Wuchereria bancrofti)

Cacing filaria membutuhkan inang pembawa (vektor) berupa beberapa jenis nyamuk dari anggota genus Culex, Anopheles, Aedes, Mansonia, dan Coquillettidia. Contoh vektor tersebut antara lain Culex quinquefasciatus, Anopheles bancroftii, Aedes aegypti, dll. Wuchereria bancrofti ini menyebabkan penyakit filariasis, atau yang biasa dikenal dengan penyakit kaki gajah.

like-fb-tentorku

Apabila Anda menyukai artikel Tentorku, bantu Tentorku untuk tumbuh di www.facebook.com/tentorku/

siklus-hidup-cacing-filaria

Siklus hidup cacing filaria | Gambar oleh U.S. CDC adalah tidak berlisensi (domain publik)

Daur hidup Wuchereria bancrofti adalah (lihat gambar di atas): [6]

  1. Ketika menghisap darah, nyamuk yang terinfeksi menularkan larva (tahap ketiga) pada kulit inang manusia melalui luka “gigitan.”
  2. Larva berkembang menjadi cacing filaria dewasa pada kelenjar getah bening (limfa).
  3. Cacing dewasa menghasilkan mikrofilaria yang memiliki lapisan pelindung dan bergerak aktif dalam peredaran darah.
  4. Mikrofilaria dalam darah tersebut ikut tertelan oleh nyamuk yang “menggigit” manusia yang terinfeksi.
  5. Mikrofilaria melepaskan lapisan pelindung dan hidup pada perut nyamuk.
  6. Mikrofilaria kemudian berkembang menjadi larva tahap pertama.
  7. Berkembang lagi menjadi larva tahap ketiga.
  8. Larva tahap ketiga pindah ke kepala dan “belalai” nyamuk untuk siap menginfeksi manusia ketika nyamuk “menggigit” manusia.

Siklus Hidup Cacing Kremi (Enterobius vermicularis)

Cacing kremi dapat menimbulkan penyakit enterobiasis pada manusia yang ditandai dengan rasa gatal di daerah anus. Penyakit ini adalah salah satu penyakit yang paling sering dijumpai di negara berkembang melalui tangan, makanan, atau air yang terkontaminasi telur Enterobius vermicularis. [7]

siklus-hidup-cacing-kremi

Siklus hidup cacing kremi | Gambar oleh U.S. CDC adalah tidak berlisensi (domain publik)

Daur hidup Enterobius vermicularis adalah (lihat gambar di atas): [8]

  1. Telur disimpan pada daerah anus.
  2. Autoinfeksi terjadi ketika seseorang menggaruk daerah anus dan tidak sengaja menelan telur yang berembrio. Penularan dari manusia ke manusia juga terjadi melalui pakaian, sprei yang terinfeksi, dan berbagai cara lainnya.
  3. Setelah telur berembrio tertelan, telur tersebut menetas menjadi larva di usus halus.
  4. Larva berkembang menjadi dewasa pada daerah sekum (kantong pada usus besar dekat usus buntu).
  5. Cacing dewasa yang “hamil” berpindah ke daerah sekitar anus untuk bertelur saat malam hari. Saat bertelur inilah yang menimbulkan rasa gatal pada inang.

Selain menimbulkan rasa gatal, infeksi cacing kremi dapat diikuti dengan infeksi bakteri apabila ada luka atau iritasi ketika sang inang menggaruk daerah anus. Juga gejala lain seperti insomnia akibat terganggunya waktu tidur dan sakit perut.

Referensi

Kontributor:

Kutip materi pelajaran ini:
Kontributor Tentorku, 2016, "Siklus Hidup Cacing Gilik (Nematoda)," Artikel Tentorku, https://www.tentorku.com/daur-hidup-cacing-gilik-nematoda/ (diakses pada 19 Feb 2017).

Materi Pelajaran Terkait:

Materi pelajaran ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda dapat mengisi komentar di bawah untuk memberitahu kami topik atau judul pelajaran yang Anda inginkan.
Anda juga bisa mengirimkan komentar pada Tentorku di akun fb/twitter/google kami di @tentorku.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan pembahasan.

Tinggalkan komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kode Verifikasi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.