Cacing Gilik (Filum Nematoda)


Laman ini adalah tampilan standar. Akses versi seluler cepat laman ini di: Cacing Gilik (Filum Nematoda) (untuk menghemat pemakaian data).

Filum Nematoda dahulu dikenal dengan nama Aeschelminthes atau Nemathelminthes, akan tetapi filum tersebut sudah usang dan sekarang menggunakan istilah resmi Nematoda. [1] Dalam Bahasa Indonesia, Nematoda dikenal dengan sebutan cacing gilik, yang berarti kecil dan bulat panjang. [2] Filum ini sangat beraneka ragam dengan habitat yang beragam pula. Saat ini sebanyak 25.000 spesies cacing gilik telah dikenali, dan diperkirakan jumlah spesiesnya (termasuk yang belum dikenali) dapat mencapai 1.000.000 spesies. [3] Filum ini beranggotakan banyak spesies cacing yang hidup sebagai parasit pada tumbuhan, hewan, maupun manusia. Bahkan, manusia merupakan inang dari sedikitnya 50 spesies cacing ini. [4]

Karakteristik Nematoda

Ciri-ciri utama Nematoda adalah bentuk tubuhnya yang gilik (bulat memanjang) dan tidak bersegmen. Anggota filum Nematoda merupakan hewan yang memiliki tiga lapisan embrionik (triploblastik), namun belum memiliki selom sejati. Selom pada cacing ini merupakan selom semu atau pseudoselom sehingga Cacing gilik adalah hewan triploblastik pseudoselomata. Tubuhnya berbentuk simetris bilateral, sehingga merupakan kelompok Bilateria.

Pada perkembangan embrionya, mulut pada embrio cacing gilik terbentuk terlebih dahulu daripada anus, sehingga hewan ini termasuk dalam kelompok Protostomia. Nematoda juga merupakan kelompok hewan yang melepaskan lapisan kulit eksternal keras seiring dengan pertumbuhan mereka, lapisan ini disebut kutikula (en: cuticle). Kelompok yang menggugurkan kutikula ini disebut dengan Ecdysozoa. [4][5][6]

FAQ: Apakah cacing gilik mengalami pergantian kulit (moulting)?
Cacing gilik termasuk ke dalam kelompok Ecdysozoa. Nama ini berasal dari kata ecdysis yang berarti molting atau yang biasa kita kenal dengan berganti kulit. Tubuh Nematoda terbungkus dengan lapisan kutikula tebal yang fleksibel; lapisan ini akan “rontok” dan berganti dengan lapisan baru secara periodik. Nematoda parasit setidaknya berganti kulit empat kali selama hidupnya. [5]

Sistem Saraf

Saraf Nematoda berada di sepanjang tubuhnya pada permukaan dorsal, ventral, dan lateral. Tali saraf ini berada di bawah kutikula dan di antara sel-sel otot. Saraf dorsal bertanggung jawab mengatur motorik, saraf lateral mengatur sensorik, kemudian saraf ventral yang memiliki ukuran paling besar mengkombinasikan kedua fungsi tersebut. Sistem saraf adalah tempat satu-satunya pada tubuh Cacing gilik yang memiliki silia. Silia-silia tersebut semuanya non-motil dan memiliki fungsi sensorik. Pada ujung anterior, saraf-saraf tersebut bercabang-cabang dan membentuk saraf padat berbentuk cincin yang mengelilingi faring. Cincin saraf inilah yang memiliki fungsi sebagai otak. [3]

Sistem Respirasi dan Ekskresi

Cacing gilik tidak memiliki organ respirasi khusus, pertukaran oksigen dan karbondioksida pada hewan ini terjadi melalui kutikula. [5] Sisa nitrogen juga diekskresikan dalam bentuk amonia melalui dinding tubuhnya tanpa menggunakan organ yang spesifik. Namun, struktur yang mengekskresikan garam dan menjaga regulasi osmosis biasanya lebih kompleks. Dalam hal ini (pada kebanyakan anggota filum Nematoda), terdapat saluran ekskresi yang terhubung pada pori-pori. [3]

Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan Nematoda sudah berkembang dengan baik dan mereka memiliki sumber makanan yang berbeda-beda. Pada spesies karnivora, cacing ini dapat memiliki alat pencabik yang bernama stylet. Stylet ini digunakan untuk menusuk mangsanya. Pada spesies yang lain, stylet dapat berongga dan digunakan untuk menghisap cairan dari tanaman dan hewan. Makanan kemudian masuk ke dalam mulut akibat daya hisap yang dihasilkan oleh kontraksi otot faring, lalu masuk menuju usus. Hewan ini tidak memiliki lambung, sehingga makanan langsung menuju usus untuk dihancurkan dan diserap nutrisinya. Sisa pencernaan kemudian dibuang melalui anus. [3][5]

Sistem Transportasi

Pada Cacing gilik, organ-organ internal (termasuk organ reproduksi), berada dalam pseudoselom. Nutrisi diedarkan ke seluruh tubuh melalui cairan dalam pseudoselom. Dengan kata lain, cacing gilik tidak memiliki sistem transportasi (atau sirkulasi). [5][6]

like-fb-tentorku

Apabila Anda menyukai artikel Tentorku, bantu Tentorku untuk tumbuh di www.facebook.com/tentorku/

Sistem Reproduksi

Sebagian besar spesies pada filum Nematoda memiliki kelamin terpisah sehingga dapat dibedakan antara individu jantan dan individu betina (disebut gonokoris). Individu jantan dan betina memiliki bentuk yang berbeda, biasanya cacing gilik jantan berukuran lebih kecil dari yang betina. Kemudian ekor dari individu jantan berbentuk seperti kait, sedangkan yang betina lurus.

Reproduksi biasanya terjadi secara seksual, namun ada juga spesies hermaprodit yang membuahi sendiri. Pada cacing gilik yang hidup bebas, telur menetas menjadi larva yang memiliki penampakan yang sama dengan individu dewasa. Tapi pada cacing gilik parasit, siklus hidupnya biasanya jauh lebih rumit (melibatkan pertukaran inang satu dengan yang lain).

Individu dewasa pada beberapa spesies terdiri dari sel-sel yang jumlahnya tetap. Jumlah sel ini sama antara satu individu dengan individu lain pada spesies yang sama. Fenomena ini disebut dengan eutely. Oleh karena itu, Nematoda merupakan subjek penelitian yang penting bagi studi genetik. [3][5]

Klasifikasi Filum Nematoda

Klasifikasi filum Nematoda masih mengalami perdebatan dan masih terus diteliti. Perdebatan hubungan filogenetik dan sistematik dari filum ini terjadi karena pengetahuan yang minim dari banyak jenis anggota filum Nematoda. Secara tradisional (1998) Nematoda terbagi menjadi dua kelas: [7]

  • Kelas Adenophorea
  • Kelas Secernentea

Akan tetapi penelitian tahun 2002, menyatakan setidaknya ada empat kelas, yaitu: [3]

  • Kelas Chromadorea
  • Kelas Enoplea
  • Kelas Secernentea
  • Kelas Dorylaimea

*Secernentea adalah kelas utama dari Nematoda.

FAQ: Apakah Nematoda sama dengan Nemathelminthes?
Nemathelminthes atau Aeschelminthes adalah filum usang yang terdiri dari tujuh kelas yang beraneka ragam, yaitu: Nematoda (atau Nemata), Rotifera, Acanthocephala, Gastrotricha, Kinorhyncha (atau Echinodera), Nematomorpha, dan Gnathostomulida. [8] Sehingga pada masa lalu (tahun 1900-an), Nematoda adalah anggota dari Nemathelminthes. Akan tetapi, klasifikasi yang lebih baru menghapus Nemathelminthes (karena terlalu beragam) dan menaikkan kelas Nematoda sebagai filum. Meskipun demikian, pengetahuan yang umum pada tingkat sekolah menganggap Nemathelminthes adalah nama lain dari Nematoda, dan menganggap keduanya adalah sama (padahal berbeda).

Contoh-Contoh Nematoda

Berikut ini adalah anggota filum Nematoda yang dapat menginfeksi manusia:

Contoh Cacing Gilik (Nematoda)
Nama IndonesiaNama LatinOrdoKelas
Cacing ususAscaris lumbricoidesAscarididaSecernentea
Cacing tambangAncylostoma duodenaleStrongylidaSecernentea
Cacing tambangNecator americanusStrongylidaSecernentea
Cacing filariaWuchereria bancroftiSpiruridaSecernentea
Cacing filariaBrugia malayiSpiruridaSecernentea
Cacing kremiEnterobius vermicularisOxyuridaSecernentea
contoh-cacing-gilik

(1) Ascaris lumbricoides; (2) Necator Americanus; (3) Wuchereria bancrofti; (4) Brugia malayi | Gambar oleh Tentorku (sumber: CDC & Jasper Lawrence) adalah berlisensi CC-BY-SA-4.0

Referensi

Kontributor:

Kutip materi pelajaran ini:
Kontributor Tentorku, 2016, "Cacing Gilik (Filum Nematoda)," Artikel Tentorku, https://www.tentorku.com/karakteristik-filum-nematoda/ (diakses pada 20 Nov 2017).

Materi Pelajaran Terkait:

Materi pelajaran ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda dapat mengisi komentar di bawah untuk memberitahu kami topik atau judul pelajaran yang Anda inginkan.
Anda juga bisa mengirimkan komentar pada Tentorku di akun fb/twitter/google kami di @tentorku.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan pembahasan.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kode Verifikasi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.