Protista Menyerupai Tumbuhan (Alga)


Laman ini adalah tampilan standar. Akses versi seluler cepat laman ini di: Protista Menyerupai Tumbuhan (Alga) (untuk menghemat pemakaian data).

Pada bahasan yang lalu kita sudah mengetahui bahwa Protista adalah Eukaryota yang bukan hewan sejati, tumbuhan sejati, atau jamur sejati. Air pada gambar di bawah ini terlihat kehijauan sebab mengandung mikroorganisme yang berwarna hijau. Bila air pada gambar di bawah diambil dan diamati pada mikroskop, maka dilihat adanya organisme-organisme kecil yang melayang-layang di air. Organisme tersebut adalah Protista menyerupai tumbuhan yang biasa disebut ganggang atau alga.

Daftar isi

Bab ini membahas Protista mirip tumbuhan (plant-like protists) (1) definisi dan karakteristik alga; (2) cara reproduksi alga; serta (3) klasifikasi alga berdasarkan pigmen.

ganggang-pada-danau

Ganggang pada danau | Photo by Bill Boaden is licensed under CC-BY-SA-2.0

Definisi dan Karakteristik Alga

Protista menyerupai tumbuhan terdiri sebagian besar dari alga atau ganggang bersel satu (uniseluler). Ciri spesifik dari ganggang yang membedakannya dengan Protista jenis lain adalah kemampuannya membuat makanan (fotoautotrof) sebab selnya mengandung klorofil. Klorofil yang ada pada Protista mirip tumbuhan berguna pada proses fotosintesis sehingga Protista ini mampu memenuhi kebutuhan nutrisinya tanpa bantuan organisme lain. Meskipun mampu membuat makanannya sendiri dan berklorofil, ganggang tidak dimasukkan ke dalam Kingdom Plantae karena tubuh ganggang tidak bisa dibedakan antara akar, batang dan daun. Meskipun demikian, beberapa jenis ganggang yang telah berhasil dianalisis perbedaan struktur akar, batang dan daun, dan umumnya bersifat makroskopik, telah dikelompokkan kedalam dunia tumbuhan. Berdasarkan jumlah sel penyusunnya, ganggang ada yang bersifat uniseluler dan multiseluler.

Protista menyerupai tumbuhan dianggap sebagai “produsen primer“, hal ini dikarenakan alga menjadi sumber makanan yang utama bagi hewan-hewan kecil. Kemampuannya menghasilkan oksigen sangat bermanfaat dalam proses respiresi aerob, khususnya bagi hewan air. Selain itu, Protista mirip tumbuhan sangat membantu dalam proses pengendalian polusi sebab alga mampu bertindak sebagai pengurai. Sama seperti Protista yang lain, alga bersifat aquatic. Dengan kata lain habitat alga adalah di lingkungan berair. Alga dapat ditemukan menempel pada batuan (epilitik), tanah/lumpur/pasir (epipalik), menempel pada tumbuhan (epifitik), dan menempel pada tubuh hewan (epizoik). Beberapa jenis Protista menyerupai tumbuhan memiliki kemampuan untuk bergerak sebab tubuhnya dilengkapi dengan alat gerak berupa flagela. Cara hidup alga beragam, ada yang hidup mandiri sebagai organisme tunggal, berpasangan, atau bergerombol dalam suatu koloni.

Sebagai sel eukariotik, setiap sel alga mempunyai inti dan plastida. Inti sel pada alga bertugas membawa informasi genetik sedangkan klorofil terdapat di dalam plastida. Klorofil yang dikandung dalam plastida memiliki warna yang berbeda-beda, hal ini disebut derivat klorofil. Derivat klorofil bisa berupa fikosianin (warna biru), fukosantin (warna pirang/ keemasan), fikoeritrin (warna merah). Selain itu, ditemukan pula zat-zat warna xantofil dan karoten sehingga alga mampu berfotosintesis. Berdasarkan warna derivat klorofil inilah kemudian Protista mirip tumbuhan dikelompokkan ke dalam divisi tertentu.

Cara Reproduksi Alga

Cara reproduksi ganggang terjadi secara seksual dan aseksual. Secara aseksual, proses reproduksi ganggang terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
a. Melalui proses pembelahan secara mitosis, sehingga terbentuk individu baru dari individu yang sudah ada. Proses reproduksi ini terjadi pada ganggang uniseluler.
b. Melalui proses fragmentasi. Hal ini terjadi pada ganggang yang hidup secara berkoloni. Pada proses fragmentasi, koloni yang sudah ada akan pecah menjadi beberapa bagian.

fragmentasi-spirogyra

Fragmentasi Spirogyra | Photo by Spicywalnut is not licensed (Public Domain)

c. Melalui proses pembentukan zoospora. Zoospora merupakan calon organisme baru yang dapat bergerak dan berenang dengan flagelanya. Merupakan sel tunggal yang diselubungi selaput dan berasal dari tubuh sel induk.

macam-zoospora

Jenis-jenis zoospora | Photo by Pancrat is not licensed (Public Domain)

Secara seksual terjadi melalui proses isogami, yaitu proses penggabungan dua sel gamet motil yang memiliki bentuk dan ukuran yang sama sehingga tidak dapat dibedakan antara sel jantan dan sel betina. Selain itu, bisa melalui proses oogami atau penggabungan dua sel gamet yang berbeda bentuk dan ukurannya. Sel betina merupakan gamet non-motil yang berukuran lebih besar, sedangkan sel jantan memiliki ukuran yang lebih kecil dan motil. Zigot yang terbentuk ketika proses fertilisasi akan mengalami dormansi dan disebut oospora.

like-fb-tentorku

Apabila Anda menyukai artikel Tentorku, bantu Tentorku untuk tumbuh di www.facebook.com/tentorku/

Klasifikasi Alga Berdasarkan Pigmen

Berdasarkan dominasi pigmennya, alga dikelompokkan menjadi beberapa divisi, yaitu:

  1. Divisi Euglenophyta (usang) -> kelas Euglenoida (baru) [1]
  2. Divisi alga hijau Chlorophyta
  3. Divisi alga cokelat Phaeophyta (usang) -> kelas alga cokelat Phaeophyceae (baru)
  4. Divisi alga pirang/keemasan Chrysophyta (usang) -> kelas alga pirang/keemasan Chrysophyceae (baru) [2]
  5. Divisi alga merah Rhodophyta
  6. Divisi alga api Pyrrophyta (usang) -> filum Dinoflagellata (baru) [3]

Biologi adalah ilmu pengetahuan yang masih belum tuntas diperdebatkan, kingdom Protista ini pertama muncul tahun 1866 oleh Haeckel, tetapi kemudian Cavalier-Smith (1998) dan metode filogenetik baru sudah tidak lagi memasukkan kingdom Protista. [4] Karena belum ada konsensus, maka untuk siswa sekolah gunakan saja filum/divisi lama, yang sistem baru sebagai pengetahuan saja.

1. Euglenophyta

Divisi Euglenophyta, dengan Euglena viridis (jenis) yang sering dijadikan sebagai contoh, merupakan jenis alga yang menyerupai hewan dan tumbuhan. Berbentuk lonjong, dan memiliki mulut disalah satu ujungnya. Pada mulutnya, terdapat flagela yang berfungsi sebagai alat gerak. Selain itu, Euglena memiliki bintik mata yang disebut stigma dan berfungsi untuk mendeteksi keberadaan cahaya.

Kebanyakan Euglena berwarna kehijauan sebab dalam selnya terdapat kloroplas. Euglena memperoleh makanan dengan cara berfotosintesis (fotoautotrof). Selain bertindak sebagai produsen, untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya Euglena juga bisa bertindak sebagai konsumen dengan cara memasukkan makanan melalui mulutnya (heterotrof).

bagian-euglena

Diagram Euglena | Photo by Claudio Miklos is not licensed (Public Domain)

Perkembangbiakan Euglena dilakukan dengan cara pembelahan biner. Sama seperti mikroorganisme uniseluler yang lain, pembelahan yang terjadi pada Euglena akan menghasilkan dua anakan. Masing-masing sel dari hasil pembelahan, memiliki setidaknya inti sel, membran sel, dan sitoplasma.

2. Chlorophyta (alga hijau)

Seperti namanya, ganggang hijau atau Chlorophyta merupakan ganggang yang mengandung banyak klorofil sehingga memiliki warna hijau. Hidup melayang-layang di air tawar dan laut, sering kali disebut sebagai plankton. Alga hijau merupakan mikroorganisme uniseluler yang bersifat autotrof. Ketika siang hari, alga hijau akan memproduksi makanannya dengan bantuan sinar matahari. Selain memproduksi makanan, alga hijau juga menjadi produsen oksigen bagi biota air. Kemampuannya mensintesis vitamin A dan D membuatnya menjadi makanan utama yang penuh nutrisi bagi hewan-hewan disekitarnya. Alga hijau memiliki bentuk seperti benang atau lembaran dan hidup secara berkoloni.

Berbeda dengan Euglena, ganggang hijau memiliki sel yang sudah dilengkapi dengan dinding sel. Selain itu, ganggang hijau juga memiliki tempat untuk menyimpan cadangan makanan yang disebut pirenoid. Tempat cadangan makanan ini berupa rongga bulat yang terletak didekat kloroplas.

Alga hijau berkembang biak secara seksual dan aseksual. Secara seksual, ganggang hijau berkembang melalui proses konjugasi dan menghasilkan zigospora. Zigospora dari hasil perkembangbiakan seksual tidak dapat bergerak sebab tidak memiliki flagela. Secara aseksual, ganggang hijau berkembang biak dengan cara fragmentasi, pembelahan biner, serta pembentukan zoospora. Zoospora yang terbentuk dapat bergerak dan berenang sebab memiliki dua hingga empat bulu cambuk (flagela).

Macam-macam Chlorophyta

3. Phaeophyta (alga cokelat)

Selain klorofil, alga cokelat memiliki kandungan fukosantin yang menyebabkan tubuhnya berwarna kecoklatan. Alga cokelat banyak ditemukan di lautan dengan air yang dingin. Berbeda dengan jenis ganggang yang lain, ganggang cokelat memiliki struktur tubuh yang menyerupai tumbuhan tingkat tinggi dengan ukuran talus yang sangat beragam, mulai dari yang mikroskopis hingga yang makroskopis. Kloroplas dari alga coklat mengandung pirenoid yang berfungsi sebagai penyimpan cadangan makanan (laminarine). Kloroplasnya berbentuk seperti benang dan merupakan kloroplas tunggal.

Cara ganggang coklat berkembang biak adalah secara seksual melalui proses oogami dan isogami. Talus pada ganggang coklat memiliki ujung yang membentuk reseptakel (alat pembiak). Di bagian reseptakel ini terdapat konseptakel yang mengandung anteredium yang menghasilkan sel kelamin jantan (spermatozoid) atau oogonium yang menghasilkan sel telur (ovum), serta benang-benang mandul yang disebut parafisis. Reproduksi secara aseksual terjadi melalui pembentukan zoospora berflagela dan pada proses fragmentasi.

Macam-macam Phaeophyta

4. Chrysophyta (alga pirang/ keemasan)

Alga pirang, disebut juga diatom sebab mengandung pigmen cokelat kuning yang disebut fukosantin. Alga pirang merupakan penyusun plankton terbesar dengan beragam bentuk. Ada yang bersel satu dan ada yang bersel banyak. Kesemuannya bersifat mikroskopis. Ganggang pirang memiliki bentuk seperti kotak yang saling menutupi dan dapat hidup di tempat yang basah, baik air tawar, air payau, maupun air laut.

synura

Synura uvella | Photo by Kristian Peters is licensed under CC-BY-SA-3.0

Reproduksi ganggang pirang dapat dilakukan dengan dua cara. Secara seksual, melalui proses oogami yang ditandai dengan pembentukan dua sel haploid yang kemudian bergabung menjadi satu individu baru. Secara aseksual, proses reproduksi dilakukan dengan proses pembelahan diri secara terus menerus hingga struktur yang paling kecil dan tidak memungkinkan untuk melakukan pembelahan lagi. Sel ini kemudian akan mati. Ketika sel mati, protoplasma akan keluar meninggalkan sel dan akan berubah menjadi organisme baru yang disebut aukospora yang kemudian akan hidup dan berkembang hingga ukuran normal. Sel sisa hasil reproduksi yang telah mati, kemudian akan mengendap dan membentuk suatu lapisan tanah. Endapan ini bermanfaat sebagai bahan penggosok, penyekat dinamit, bahan pembuatan cat, pernis, bahan dasar industri kaca, penyaring dan piringan hitam.

5. Rhodophyta (alga merah)

Alga merah mengandung zat warna merah yang disebut fikoeritrin. Ciri khusus yang dimiliki ganggang merah adalah tidak memiliki flagel. Dinding selnya berlapis-lapis, hal ini berguna untuk menimbun kalsium karbonat (CaCO3). Selain kemampuannya menimbun kalsium karbonat, ganggang merah juga mampu menyimpan hasil fotosintesis dalam berbagi bentuk seperti tepung fluoride (sejenis karbohidrat), senyawa gliserin dan galaktosa yang disebut floridoside, serta tetes-tetes minyak. Kesemuanya ini disimpan pada pirenoid yang terletak pada kloroplas. Cara berkembang biak dilakukan secara aseksual dan seksual. Aseksual pada fase diploid, ketika alga menghasilkan spora jantan dan betina yang akan tumbuh menjadi alga jantan dan betina (haploid). Lalu seksual, melalui proses peleburan sperma dan ovum (yang dihasilkan alga haploid) yang kemudian menghasilkan zigot.

gracilaria

Gracilaria | Photo by Emoody26 at en.wikipedia is licensed under CC-BY-3.0

Ganggang merah mendapat julukan sebagai rumput laut (seaweed) sebab memiliki bentuk yang menyerupai rumput yang hidup di lautan. Bentuk tubuhnya berupa lembaran yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, diantaranya: bahan pembuat agar-agar, medium kultur mikroorganisme, bahan pembuat alat kosmetik, pelapis daging kaleng, pengeras es krim, serta pengelmusi lemak dan cokelat batangan.

6. Pyrrophyta (alga api)

Alga api, disebut demikian sebab alga jenis ini memiliki kemampuan untuk memancarkan cahaya menyala di malam hari (bioluminesensi). Habitatnya di air laut. Disebut pula Dinoflagellata dan memiliki beberapa ciri diantaranya: bergerak aktif, bersel satu dengan dinding berupa lempengan selulosa rapat, berklorofil serta memiliki tubuh luar yang dilengkapi celah dan alur yang masing-masing ujungnya dilengkapi sebuah flagel.

noctiluca

Noctiluca scintillans | Photo by Maria Antónia Sampayo, Instituto de Oceanografia, Faculdade Ciências da Universidade de Lisboa is licensed under CC-BY-3.0

Perkembangbiakan alga api dilakukan dengan cara membelah diri. Sering kali perkembangbiakan ganggang api dilakukan secara besar-besaran hingga menghasilkan pasang dengan air berwarna merah seperti darah. Beberapa spesies alga merah bersifat toksin, yang apabila menempel pada ikan maupun kerang, akan berdampak buruk pada yang mengkonsumsinya.

Referensi

Kontributor: ,

Kutip materi pelajaran ini:
Kontributor Tentorku, 2015, "Protista Menyerupai Tumbuhan (Alga)," Artikel Tentorku, https://www.tentorku.com/protista-menyerupai-tumbuhan-alga/ (diakses pada 21 Aug 2017).

Materi Pelajaran Terkait:

Materi pelajaran ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda dapat mengisi komentar di bawah untuk memberitahu kami topik atau judul pelajaran yang Anda inginkan.
Anda juga bisa mengirimkan komentar pada Tentorku di akun fb/twitter/google kami di @tentorku.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan pembahasan.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kode Verifikasi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.