Teori Sel Klasik dan Modern


Laman ini adalah tampilan standar. Akses versi seluler cepat laman ini di: Teori Sel Klasik dan Modern (untuk menghemat pemakaian data).

Dalam biologi, teori sel adalah teori ilmiah yang menjelaskan sifat-sifat sel. Dalam perkembangannya, teori sel ini terbagi menjadi teori sel klasik dan modern.

Daftar isi

Bab ini membahas teori sel, yaitu sifat sel sebagai: (1) unit struktural; (2) unit pertumbuhan; (3) unit fungsional; dan (4) unit hereditas.

Sel Sebagai Unit Struktural Makhluk Hidup

Sel merupakan unit struktural terkecil dari tubuh suatu organisme, namun meskipun demikian sel merupakan komponen utama penyusun tubuh organisme tersebut. Sekelompok sel membentuk jaringan, sekelompok jaringan membentuk organ, dan sekelolompok organ akan menyusun sebuah tubuh. Teori ini dikemukakan oleh dua ahli botani M. J. Schleiden (1838) yang mengadakan penelitian pada sel tumbuhan dan Theodor Schwann (1839) yang mengadakan pengamatan pada sel hewan. Penelitian mereka menghasilkan dua prinsip dasar teori sel klasik, yaitu: [1]

  1. Semua organisme hidup disusun oleh sebuah sel atau lebih. (Organisme yang hanya tersusun dari satu sel disebut organisme uniseluler, sedangkan organisme yang tersusun dari banyak sel disebut organisme multiseluler).
  2. Sel adalah unit yang paling dasar dari kehidupan.
Organisasi Kehidupan

Organisasi kehidupan | Photo by LadyofHats (Mariana Ruiz) is not licensed (Public Domain)

Sel Sebagai Unit Pertumbuhan Makhluk Hidup

Teori Schleiden tentang pembentukan sel bebas melalui kristalisasi dibantah pada 1850-an oleh Robert Remak, Rudolf Virchow, dan Albert Kolliker. Pada tahun 1855, Rudolf Virchow menambahkan prinsip ketiga untuk sel teori klasik:

  • Semua sel hanya muncul dari sel yang sudah terlebih dahulu ada (Omnis cellula e cellula). [3] Setelah prinsip ini ditambahkan, teori sel klasik menjadi lengkap.

Sel di dalam tubuh organisme berkembang dengan cara membelah diri. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan jaringan dan organ dari organisme itu sendiri. Selain itu sel berkembang untuk meregenerasi sel lain yang rusak atau mati. [4] Sel berkembang sangat cepat pada masa pertumbuhan (anak-anak), dan mulai berhenti membelah diri bila dirasa jaringan yang dibutuhkan telah cukup. Saat sel telah membentuk cukup jaringan, seperti misalnya jaringan kulit telapak tangan, maka sel tersebut akan mengirimkan pesan ke sel yang lain sehingga seluruh sel pembentuk jaringan kulit telapak tangan akan berhenti berkembang dan membelah. Namun bila ada sel yang mati atau rusak, maka pertumbuhan sel itu akan dimulai lagi, begitu seterusnya.

Sel Sebagai Unit Fungsional Makhluk Hidup

Max Schultze (1861) menemukan adanya protoplasma dalam sel, Ia menyebut sel dengan “ein nacktes. Protoplasmaklumpchen mit Kern,” [5] yang berarti sebuah benjolan protoplasma telanjang dengan inti. Schultze menyatakan bahwa Protoplasma merupakan bagian terpenting dari suatu sel dimana reaksi-reaksi kimia kehidupan berlangsung. Oleh sebab itu sel disebut sebagai unit fungsional organisme. “Independent single-celled organisms must conduct all the basic processes of life.[6]

Sel merupakan unit fungsional, itu berarti bahwa setiap sel secara mandiri melakukan proses dasar yang digunakan suatu organisme untuk hidup, dengan kata lain setiap fungsi yang dilakukan pada tubuh suatu organisme, dijalankan melalui sel. Sel bekerja dengan cara menyerap nutrisi untuk kemudian diproses menjadi energi, mengeluarkan sisa metabolisme, merespon rangsangan, bergerak, bernafas, tumbuh serta bereproduksi. Seluruh sistem dan proses penting yang ada ditubuh suatu organisme dikendalikan oleh sel.

Sel Merupakan Unit Hereditas

Sel membawa informasi genetik berupa DNA yang diwariskan dari generasi sebelumnya. [7] Sifat, ciri, serta struktur fisik dari suatu organisme diwariskan secara turun temurun. Sel memiliki kromosom yang terdapat dalam inti sel (nucleus). Kromosom inilah yang membawa informasi genetik sehingga sel disebut sebagai unit hereditas.

like-fb-tentorku

Apabila Anda menyukai artikel Tentorku, bantu Tentorku untuk tumbuh di www.facebook.com/tentorku/

kromosom-dna-eukariotik

Kromosom dan DNA sel eukariotik | Photo by Radio89 is licensed under CC-BY-SA-3.0

Teori sel terus berkembang seiring waktu dan didukung dengan perkembangan mikroskop elektron. Karena semakin banyak bahan hidup telah diamati pada perbesaran yang lebih tinggi, lebih jauh pula para ilmuwan telah belajar tentang sel yang mengarah pada teori sel modern. Teori sel modern mencakup dua prinsip dasar dari versi klasik dan kemudian menambahkan hal-hal berikut: [9]

  1. Sel berisi informasi turun-temurun (DNA) yang diturunkan dari sel ke sel selama pembelahan sel.
  2. Aliran energi terjadi di dalam sel.
  3. Semua sel pada dasarnya adalah sama dalam komposisi kimianya.
Referensi

Kontributor:

Kutip materi pelajaran ini:
Kontributor Tentorku, 2015, "Teori Sel Klasik dan Modern," Artikel Tentorku, https://www.tentorku.com/teori-sel-klasik-dan-modern/ (diakses pada 20 Sep 2017).

Materi Pelajaran Terkait:

Materi pelajaran ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda dapat mengisi komentar di bawah untuk memberitahu kami topik atau judul pelajaran yang Anda inginkan.
Anda juga bisa mengirimkan komentar pada Tentorku di akun fb/twitter/google kami di @tentorku.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan pembahasan.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kode Verifikasi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.