Siklus Hidup Cacing Pita (Cestoda)


Laman ini adalah tampilan standar. Akses versi seluler cepat laman ini di: Siklus Hidup Cacing Pita (Cestoda) (untuk menghemat pemakaian data).

Cestoda disebut sebagai cacing pita karena hewan ini mempunyai tubuh yang sangat panjang. Cacing pita sejati bersifat hermafrodit dan memiliki daur hidup yang lebih sederhana dari Trematoda. Cacing pita tidak mengalami fase aseksual dalam siklus hidupnya. Meskipun begitu, siklus hidup cacing pita masih tergolong kompleks karena melibatkan sedikitnya satu inang perantara, dan satu inang primer. [1] Cestoda adalah organisme yang unik. Ujung kepala Cestoda yang memiliki kait disebut dengan skoleks (en: scolex). Di belakang skoleks terdapat rangkaian segmen yang masing-masing disebut proglotid. Tiap-tiap proglotid memiliki organ reproduksi jantan dan betina. Walaupun mempunyai kait, akan tetapi cacing ini tidak mempunyai mulut. Mereka menyerap nutrisi menggunakan permukaan tubuhnya. [2]

Siklus Hidup Cacing Pita (Cestoda)

Secara sekilas siklus hidup cacing pita mirip dengan Trematoda, akan tetapi lebih sederhana. Hal ini disebabkan karena tidak ada fase reproduksi aseksual pada daur hidup Cestoda. Berikut ini adalah daur hidup umum dari cacing pita: [2][3][4]

  1. Telur – Cestoda bereproduksi seksual, lalu menghasilkan (dan menyimpan) telur pada proglotid-nya. Segmen proglotid yang matang kemudian “rontok” bersamaan dengan telur-telur yang dikandungnya. Telur ini keluar melalui kotoran inang primer dan dimakan oleh inang perantara (sapi, babi, dll.).
  2. Onkosfer (en: oncosphere) – Dalam tubuh inang perantara, telur menetas menjadi onkosfer, yaitu larva heksakant (en: hexacanth) yang masih dibungkus oleh lapisan embrionik.
  3. Larva heksakant – Onkosfer menjadi larva heksakant yang mampu menembus dinding saluran pencernaan, dan terbawa menuju otot.
  4. Sista sistiserkus (en: cysticercus) – larva heksakant yang telah berada di otot kemudian membungkus diri menjadi sistiserkus. Sistiserkus ini bisa bertahan beberapa tahun pada hewan (inang perantara), kemudian akan terbawa ke inang primer (inang definitif) apabila termakan bersamaan dengan daging hewan.
  5. Cacing pita muda – sistiserkus yang berada di usus inang primer akan menempel dan mulai tumbuh menjadi dewasa.
  6. Cacing pita dewasa – cacing dewasa menempel pada usus dengan skoleks dan mulai melakukan reproduksi seksual, proglotid cacing pita mulai terisi dengan telur yang berjumlah puluhan sampai ratusan ribu per segmen proglotid. Hebatnya, cacing pita bisa memiliki 1.000 – 2.000 segmen.
  7. Proglotid rontok – ketika sudah matang dan berisi telur, segmen-segmen proglotid yang penuh dengan telur mulai berguguran dan terbawa melalui kotoran.
siklus-hidup-taenia-taeniasis

Siklus hidup Taenia (Taeniasis) | Photo by U.S. CDC is not licensed (Public Domain)

Siklus Hidup Taenia saginata

Taenia saginata disebut juga cacing pita sapi karena memiliki inang perantara sapi. Cacing ini kurang berbahaya karena hanya dapat menyebabkan infeksi cacing pita dewasa, disebut dengan taeniasis. Hanya cacing pita muda dan dewasa yang dapat hidup dalam tubuh manusia. Daur hidup cacing pita sapi ini adalah (menggunakan gambar di atas): [4]

  1. Telur atau proglotid yang matang terbawa oleh kotoran manusia ke lingkungan luar.
  2. Inang perantara, yaitu sapi memakan rumput yang terkontaminasi telur atau proglotid Taenia saginata.
  3. Dalam tubuh sapi, telur menetas menjadi onkosfer lalu menjadi heksakant, lalu di otot membentuk sistiserkus.
  4. Sistiserkus pada daging sapi yang tidak dimasak dengan benar dimakan oleh manusia.
  5. Dalam usus, Taenia saginata muda berkembang menjadi dewasa dan menempel menggunakan skoleks.
  6. Setelah reproduksi, proglotid matang yang berisi telur mulai “gugur” dan terbawa kotoran.
FAQ: Apakah sapi mengandung cacing pita?
Sapi mengandung larva cacing pita Taenia saginata dari onkosfer sampai sistiserkus. Sistiserkus ini bukanlah “cacing pita” dewasa, manusialah yang akan mengandung cacing pita apabila tidak sengaja memakan sistiserkus dalam otot (daging) sapi. Infeksi ini disebut dengan taeniasis.

Siklus Hidup Taenia solium

Taenia solium disebut juga cacing pita babi karena memiliki inang perantara babi. Cacing ini berbahaya karena dapat menyebabkan sistiserkosis (en: cysticercosis), yang jauh lebih berbahaya dari taeniasis. Pada Taenia solium, tidak hanya cacing muda dan cacing dewasa saja yang dapat hidup di dalam tubuh manusia, akan tetapi sistiserkus juga dapat terbentuk di organ-organ manusia. Bahkan, sistiserkus dapat terbentuk di mata dan otak manusia. Daur hidup cacing pita babi ini adalah (taeniasis 1-6 sama dengan Taenia saginata, sistiserkosis mulai nomor 7-9): [5]

siklus-hidup-taenia-solium-sistiserkosis

Siklus hidup Taenia solium (Sistiserkosis) | Photo by U.S. CDC is not licensed (Public Domain)

  1. Telur atau proglotid yang matang terbawa oleh kotoran manusia ke lingkungan luar.
  2. Inang perantara, yaitu babi memakan makanan yang terkontaminasi telur atau proglotid Taenia solium.
  3. Dalam tubuh babi, telur menetas menjadi onkosfer lalu menjadi heksakant, lalu di otot membentuk sistiserkus.
  4. Sistiserkus pada daging babi yang tidak dimasak dengan benar dimakan oleh manusia.
  5. Dalam usus, Taenia solium muda berkembang menjadi dewasa dan menempel menggunakan skoleks.
  6. Setelah reproduksi, proglotid matang yang berisi telur mulai “gugur” dan terbawa kotoran.
  7. Telur cacing pita babi termakan oleh manusia. Ini bisa terjadi karena makanan yang terkontaminasi, atau autoinfeksi (infeksi sendiri) karena tidak mencuci tangan dengan bersih setelah buang air.
  8. Dalam tubuh manusia, telur menetas menjadi onkosfer lalu menjadi heksakant.
  9. Sistiserkus dapat berkembang di semua organ manusia, umumnya pada jaringan di bawah kulit, juga mata dan otak.
FAQ: Apa perbedaan Taenia solium dan Taenia saginata?
  • Taenia solium memiliki kait pada skoleksnya, sedangkan Taenia saginata tidak.
  • Pada manusia, Taenia solium dapat menyebabkan sistiserkosis dan taeniasis, sedangkan Taenia saginata hanya menyebabkan taeniasis.
  • Panjang cacing pita dewasa 2 – 7 m pada T. solium, sedangkan pada T. saginata 5 m atau kurang.
  • Jumlah proglotid T. solium rata-rata 1.000, sedangkan pada T. saginata 1.000 – 2.000.
  • Jumlah telur pada tiap proglotid T. solium mencapai 50.000, sedangkan pada T. saginata mencapai 100.000 telur.
Referensi

Kontributor:

Kutip materi pelajaran ini:
Kontributor Tentorku, 2016, "Siklus Hidup Cacing Pita (Cestoda)," Artikel Tentorku, https://www.tentorku.com/siklus-hidup-cacing-pita-cestoda/ (diakses pada 22 Sep 2017).

Materi Pelajaran Terkait:

Materi pelajaran ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda dapat mengisi komentar di bawah untuk memberitahu kami topik atau judul pelajaran yang Anda inginkan.
Anda juga bisa mengirimkan komentar pada Tentorku di akun fb/twitter/google kami di @tentorku.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan pembahasan.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kode Verifikasi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.