Ratu Shima Sang Ratu Adil


Laman ini adalah tampilan standar. Akses versi seluler cepat laman ini di: Ratu Shima Sang Ratu Adil (untuk menghemat pemakaian data).

Pada jaman dahulu sekitar tahun 674 Masehi, di bagian utara pesisir Jawa Tengah berdiri sebuah kerajaan yang begitu makmur bernama kerajaan Kalingga. Pusat pemerintahan saat itu berada di daerah yang saat ini dikenal sebagai Jepara. Kerajaan Kalingga dipimpin oleh seorang Ratu yang sangat adil dan bijaksana, bernama Ratu Shima. Ratu Shima adalah seorang ratu yang sangat termahsyur. Dibawah kepemimpinannya, Negeri Kalingga begitu berjaya. Rakyatnya hidup begitu sejahtera.

Pada masa kepemimpinan Ratu Kalingga, pantai-pantai selalu dipenuhi nelayan serta kapal-kapal pedagang dari mancanegara, pasar-pasar tak pernah sepi penjual, para petani bekerja dengan penuh semangat. Tak ada orang yang malas di kala itu. Namun, bukan hanya itu yang membuat kerajaan Kalingga begitu berjaya. Sistem hukum di sanalah yang membuat kerajaan itu mencapai puncak kejayaan.

Menurut sumber-sumber Tiongkok, Ratu Shima dijuluki sebagai Ratu Adil. Pada masa pemerintahannya, semua oarang mendapatkan perlakuan hukum yang setara. Masyarakat selalu terbebas dari rasa cemas. Tak ada orang yang takut pergi sendiri, tak ada orang yang takut untuk meninggalkan barang sebab kejahatan pada masa itu merupakan hal yang benar-benar dibenci oleh sang Ratu, dan bagi siapa saja yang melanggar akan mendapatkan hukuman yang setimpal.

Alkisah, kebijaksanaan dan keadilan Ratu Shima termahsyur hingga bangsa seberang. Para pedagang dari China, Tiongkok, dan India berdatangan. Semua ingin berdagang sekaligus membuktikan kemahsyuran Negeri Kalingga serta Sang Ratu.

queen-of-the-night

Queen of the Night (hanya sebagai ilustrasi Ratu Shima) | Photo by Finneganw is licensed under CC-BY-SA-3.0

Pada suatu hari, sekelompok pedagang Tiongkok begitu penasaran akan cerita yang beredar. Dia dan kawanan-kawannya pergi ke wilayah Kerajaan Kalingga. Sesampainya di sana, salah seorang dari mereka meletakkan sekantung emas di alun-alun. Setelah menunggu beberapa lama, tak seorangpun menyentuhnya. Hingga sebuah rombongan besar, rombongan Pangeran hendak melintas. Ketika rombongan Pangeran itu lewat, Pangeran melihat ada sekantung emas. Ternyata Sang Pangeran berhenti tepat di depan kantong emas tersebut. Dengan menggunakan kakinya dia menyenggol kantung emas itu hingga tumpah berceceran. Para pedagang menantinya dengan perasaan berdebar sambil berharap-harap cemas menantikan apa yang akan terjadi. Mereka pikir Pangeran atau pengawal akan mengambilnya setelah mengetahui bahwa isinya adalah emas. Setelah berhenti beberapa saat, arak-arakan itu lewat tanpa mengambil sekeping pun emas tersebut.

“Ah mungkin Pangeran tak butuh emas. Kita tunggu lagi, siapa tahu ada rakyat jelata yang akan mengambilnya.” Ujar salah seorang pedagang Tiongkok.

Mereka pun sepakat dan memutuskan untuk menunggu hingga matahari terbenam. Setelah menunggu seharian, penantian mereka tak membuahkan hasil. Emas yang berserakan di tanah tetap tak tersentuh. Para pedagang Tiongkok itu akhirnya percaya bahwa kerajaan Kalingga benar-benar sebuah wilayah yang bebas dari kejahatan. Setelah mengambil emas mereka dan menyelesaikan urusan dagang mereka berniat pulang ke Negeri mereka.

Keesokan harinya ketika hendak berlayar mereka mendengar desas-desus bahwa Pangeran akan dijatuhi hukuman di alun-alun. Penasaran kejahatan apa yang telah dilakukan oleh Pangeran, mereka membatalkan pelayaran dan bergegas menuju alun-alun.

Di tengah alun-alun, seorang algojo telah siap dengan cambuk di tangannya. Hukuman hendak dilakukan. Sebelum hukuman dilakukan, seorang Hulubalang membacakan dakwaannya. Ternyata Pangeran dihukum karena pada hari sebelumnya telah berani menyentuh sekantong emas yang bukan miliknya dengan sengaja. Dengan dakwaan itu, Sang Ratu memutuskan Sang Pangeran dihukum cambuk 100 kali. Hal itu sesuai dengan hukum yang berlaku saat itu.

like-fb-tentorku

Apabila Anda menyukai artikel Tentorku, bantu Tentorku untuk tumbuh di www.facebook.com/tentorku/

Hukuman pun dilakukan di depan rakyat. Meski dengan hati yang miris melihat anak kesayangannya dihukum, Ratu Shima tak mengendurkan niatnya. Baginya hukuman ini sekaligus pelajaran untuk seluruh rakyatnya sebab kejahatan tetaplah kejahatan tak peduli siapun yang melakukannya. Sang Pangeran menjalani hukumannya dengan ikhlas karena dia mengerti bahwa dia telah melakukan kesalahan. Para rakyat semakin percaya pada keadilan dan kebijaksanaan Ratu Shima yang dilakukan tanpa pandang bulu. Sedang para pedagang Tiongkok, begitu merasa bersalah sebab karena ingin membuktikan adilnya hukum di Kerajaan Kalingga lah yang akhirnya membuat Pangeran dihukum.

Begitulah akhirnya, kerajaan Kalingga terus berjaya hingga akhir kepemimpinan Sang Ratu Adil. Karena keadilan dan kebijaksanaannya, hingga saat ini Ratu Shima masih dianggap sebagai lambang keadilan.

Seandainya saja semua orang bisa seadil Ratu Shima.. bisa kalian bayangkan betapa indahnya negeri ini.. 🙂

Kontributor:

Kutip materi pelajaran ini:
Kontributor Tentorku, 2015, "Ratu Shima Sang Ratu Adil," Artikel Tentorku, https://www.tentorku.com/ratu-shima-sang-ratu-adil/ (diakses pada 28 Feb 2017).

Materi Pelajaran Terkait:

Materi pelajaran ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda dapat mengisi komentar di bawah untuk memberitahu kami topik atau judul pelajaran yang Anda inginkan.
Anda juga bisa mengirimkan komentar pada Tentorku di akun fb/twitter/google kami di @tentorku.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan pembahasan.

Tinggalkan komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kode Verifikasi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.